Breaking News
light_mode
Trending Tags
Detak Papua HUT RI_Web
previous arrow
next arrow
Beranda » Nasional » TAK MINTA DIKASIHANI!

TAK MINTA DIKASIHANI!

  • account_circle admin
  • calendar_month 20 jam yang lalu
  • visibility 38
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lima Sahabat Disabilitas Buktikan Kemampuan Lewat Film

‘TERANGKU DALAM GELAPKU’’

Lima sahabat, lima kemampuan berbeda, dan satu pesan yang menggugah: jangan batasi mimpi seseorang hanya karena disabilitasnya. Film karya Mimi Jegon ini mengangkat persahabatan, perjuangan keluarga, dan keberanian untuk berkarya.

Jakarta detaakpapua.com||Bagaimana jika orang yang selama ini kerap dipandang sebelah mata justru menunjukkan bahwa mereka memiliki bakat, mimpi, dan kemampuan untuk berkarya?

Pertanyaan itulah yang menghidupkan film drama “Terangku dalam Gelapku”. Film garapan Ni Pande Putu Rahayu Mustika Dewi ini, mengisahkan lima sahabat dengan kondisi berbeda yang belajar saling memahami, menghadapi persoalan keluarga, dan membangun kepercayaan diri.

Mereka adalah Tasya, Abas, Kerti, Natali, dan Crystal. Ada yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, ada yang mengenali lingkungan melalui indra peraba dan pendengaran, serta ada yang menghadapi tantangan dalam mobilitas maupun proses belajar. Namun, mereka memiliki satu kesamaan: keinginan untuk diterima, mengembangkan kemampuan, dan mendapatkan kesempatan yang setara.

Pesan film ini sederhana, tetapi menantang cara pandang kita: apakah selama ini kita benar-benar melihat kemampuan seseorang, atau justru lebih dahulu melihat keterbatasannya?

Dari Film Horor ke Drama yang Menyentuh Persoalan Kemanusiaan

Bagi Mimi Jegon,” Terangku dalam Gelapku” menjadi langkah baru dalam perjalanan kreatifnya. Film ini merupakan karya kesembilannya sekaligus drama pertama yang ia garap setelah sebelumnya memproduksi delapan film bergenre horor.

Ide membuat film tentang anak disabilitas muncul pada 2025, ketika Mimi diundang menjadi pembicara dalam sebuah kegiatan perfilman yang dihadiri anak-anak dari sejumlah sekolah luar biasa (SLB) di Bali.

Di hadapan peserta, ia spontan menyampaikan keinginan untuk membuat film tentang anak disabilitas. Sebuah pernyataan yang kemudian menjadi tantangan tersendiri karena selama ini ia lebih terbiasa bekerja dalam genre horor.

“Saat itu saya spontan mengatakan akan membuat film tentang anak disabilitas. Padahal, dalam hati saya berpikir, saya belum bisa membuat film drama karena selama ini hanya membuat film horor,” kata Mimi Jegon . Keinginan itu akhirnya terwujud pada 2026 setelah mendapat dukungan produksi. Proses pengambilan gambar berlangsung selama dua bulan, jauh lebih lama dibandingkan film-film sebelumnya yang biasanya selesai dalam waktu sekitar dua minggu.

Perbedaan waktu produksi ini tidak lepas dari kebutuhan untuk menyesuaikan proses kerja dengan karakter dan kebutuhan para pemeran. Tim produksi harus memastikan setiap adegan dapat dijalani dengan baik, sekaligus membangun komunikasi yang nyaman bagi semua yang terlibat.

Abas Harus Menghafal Tangga dan Arah Belokan, Kru Pun Belajar Bahasa Isyarat

Salah satu tantangan produksi muncul ketika mengarahkan Abas, pemeran dengan disabilitas netra. Sebelum menjalani adegan, ia perlu mengenali dan menghafal lingkungan, mulai dari tangga, arah belokan, hingga posisi benda.

Sementara itu, tim produksi juga perlu mempelajari bahasa isyarat agar dapat menyampaikan arahan kepada pemeran Tuli. Guru bahasa isyarat dilibatkan untuk membantu memastikan komunikasi dan adegan tersampaikan dengan tepat.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa film inklusif tidak cukup dibuat dengan menghadirkan pemeran disabilitas di depan kamera. Proses produksinya juga perlu memberikan akses, membangun komunikasi, dan menyesuaikan metode kerja dengan kebutuhan pemeran.

Di sinilah pesan film bertemu dengan praktik nyata. Kesetaraan bukan berarti semua orang harus melakukan segala sesuatu dengan cara yang sama, melainkan setiap orang memperoleh dukungan yang dibutuhkan untuk berpartisipasi.

Lima Tokoh, Lima Kemampuan, dan Persahabatan yang Saling Melengkapi

Film ini menghadirkan lima karakter utama dengan kondisi yang berbeda.

Tasya dan Crystal merupakan perempuan Tuli. Abas adalah penyandang disabilitas netra, Kerti merupakan penyandang disabilitas fisik, sedangkan Natali adalah penyandang disabilitas intelektual dengan sindrom Down.

Dalam cerita, mereka saling membantu menghadapi tantangan sehari-hari. Kerti membantu Abas berkomunikasi dengan teman-temannya, sedangkan sahabat-sahabatnya memberikan dukungan kepada Kerti dalam aktivitas yang membutuhkan mobilitas.

Mereka tidak digambarkan sebagai orang yang selalu membutuhkan pertolongan. Mereka juga menjadi teman yang mampu memberi bantuan, berbagi kemampuan, dan menguatkan orang lain.

Persahabatan tersebut membawa pesan bahwa hubungan antarmanusia tidak seharusnya dibangun berdasarkan rasa kasihan, tetapi melalui penghargaan, kepercayaan, dan kesediaan untuk saling memahami.

Film ini juga mengangkat persoalan keluarga dan penerimaan terhadap anak disabilitas. Dukungan orang tua menjadi bagian penting agar anak memiliki kepercayaan diri, kesempatan mengembangkan bakat, dan keberanian untuk mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

 

 

 

Mereka Punya Bakat, Bukan Sekadar Cerita Inspiratif

Kelima pemeran utama berasal dari Bali dan memiliki minat serta bakat di berbagai bidang seni.

Ni Putu Sri Widya Meganatasya, 12 tahun, pemeran Tasya, merupakan siswi kelas VI SLB Negeri 1 Badung yang berbakat dalam modeling dan tari Bali.

I Putu Baja Kariana Abas, 21 tahun, pemeran Abas, merupakan siswa kelas XII SMALB asal Bangli yang memiliki kemampuan bermain musik.

Komang Kertiasih, 19 tahun, pemeran Kerti, merupakan siswi kelas X SMALB asal Buleleng yang berbakat dalam bernyanyi, fotografi, dan videografi.

Komang Ayu Natalia Mahadewi, 16 tahun, pemeran Natali, merupakan siswi kelas X SMALB asal Denpasar yang berbakat dalam bernyanyi dan membuat kerajinan seni.

Sementara itu, Crystal Foo Natasya, 21 tahun, pemeran Crystal, menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Bali dan memiliki bakat dalam desain busana serta melukis.

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa dunia seni dan perfilman dapat menjadi ruang bagi talenta disabilitas untuk berkembang. Kesempatan mengikuti proses produksi, mengasah keterampilan, dan tampil di depan publik merupakan bagian penting dari terbukanya akses yang setara.

Bakat tidak semestinya berhenti berkembang hanya karena seseorang menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan, pekerjaan, fasilitas, atau ruang berekspresi.

Dari Bali hingga Papua, Pesan Kesetaraan Ini Layak Didengar

Kisah dalam Terangku dalam Gelapku membawa pesan yang relevan bagi masyarakat di berbagai daerah, termasuk Jayapura dan Papua: setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkarya, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Di bidang seni dan perfilman, inklusi dapat dimulai dengan membuka kesempatan audisi bagi talenta disabilitas, menyediakan akses komunikasi yang sesuai, dan memastikan lingkungan produksi dapat digunakan bersama.

Di lingkungan keluarga, dukungan dapat diberikan dengan mengenali minat anak, menghargai proses belajarnya, dan tidak menetapkan batas masa depan hanya berdasarkan kondisi yang dimiliki.

Sementara itu, masyarakat dapat memulai dari tindakan sederhana, seperti mempelajari bahasa isyarat dasar dan membangun komunikasi yang menghormati kebutuhan setiap orang.

Film ini tidak menawarkan jawaban untuk semua persoalan disabilitas. Namun, melalui kisah persahabatan dan pengalaman produksinya, film ini mengajak penonton memulai percakapan yang lebih terbuka tentang penerimaan, aksesibilitas, dan kesempatan berkarya.

 

Menunggu Kesempatan Tayang di Bioskop

Terangku dalam Gelapku direncanakan diusulkan untuk tayang di bioskop pada 3 Desember 2026, bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional. Jadwal tersebut masih menunggu persetujuan pihak bioskop. Jika belum memungkinkan pada Desember, pihak produksi mempertimbangkan penayangan pada Maret 2027. Bagi Mimi Jegon, film ini diharapkan dapat membantu anak-anak disabilitas mengenali dan mengembangkan kemampuan mereka, sekaligus mendorong keluarga dan masyarakat memberikan dukungan yang setara.

Pada akhirnya, kekuatan Terangku dalam Gelapku bukan hanya terletak pada kisah lima sahabatnya, melainkan juga pada pertanyaan yang ditinggalkan bagi penonton.

Sudahkah kita memberikan ruang bagi seseorang untuk menunjukkan kemampuannya sebelum menilai apa yang tidak bisa dilakukannya?

 

Sebab, mereka tidak membutuhkan dunia yang memandang mereka dengan rasa kasihan. Mereka membutuhkan dunia yang membuka kesempatan agar mereka bisa belajar, berkarya, dan menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya. ( BS)

 

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Unlikely Origins: The Humble Beginnings of Today’s Tech Titans

    Unlikely Origins: The Humble Beginnings of Today’s Tech Titans

    • calendar_month Minggu, 25 Feb 2024
    • account_circle mtgailea
    • visibility 936
    • 0Komentar

    Exploring the Tech-Savvy WondersThe delineation between digital and physical continues to blur, weaving a fabric of reality that resonates with the beats of progress. Within this exciting nexus, entrepreneurs and tech aficionados find a fertile ground to cultivate, explore, and thrive. As we navigate through the myriad of gadget-driven narratives, there are key trends and […]

  • Giat SMANDA Manokwari dalam rangka sambut HUT NKRI ke 81 photo_camera 3

    Giat SMANDA Manokwari dalam rangka sambut HUT NKRI ke 81

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 122
    • 0Komentar

    MANOKWARI – detakpapua.com. Memasuki bulan Agustus berbagai kegiatan di selenggarakan oleh Pemerintah, Instansi Swasta, BUMN,BUMD, hingga berbagai sekolah di Indonesia. Demikian juga dengan SMA Negeri 2 (Dua) Manokwari. Dalam rangka sambut hari ulang tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Sekolah menggelar berbagai kegiatan yang dikemas dalam berbagai Lomba, seperti lomba Tarik tambang, Water Boom dan […]

  • Will Cristiano Ronaldo Play Tonight in Al-Nassr vs Al-Ettifaq Saudi Pro League 2024-25 Match? 12.39 Play Button

    Will Cristiano Ronaldo Play Tonight in Al-Nassr vs Al-Ettifaq Saudi Pro League 2024-25 Match?

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle mtgailea
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Al Nassr failed to win major title with Cristiano Ronaldo in the squad. The Portuguese superstar has been incredible in front of the goal and led the league in goals scored in both his full seasons. Currently the side at the third position in the Saudi Pro League 2024-25 standings, with just 14 games remaining. […]

  • Penembakan Terjadi di Kompleks Pertamina Lama Tolikara, Seorang Warga Luka di Bagian Betis photo_camera 5

    Penembakan Terjadi di Kompleks Pertamina Lama Tolikara, Seorang Warga Luka di Bagian Betis

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 89
    • 0Komentar

    TOLIKARA, PAPUA PEGUNUNGAN — Aksi penembakan dilaporkan terjadi di Kompleks Pertamina Lama, Distrik Wenam, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan, pada Minggu (16/8/2026) sekitar pukul 19.25 WIT. Berdasarkan laporan awal yang diterima dari sumber langsung, seorang warga bernama Aryo Saputra (25) mengalami luka tembak pada bagian betis kaki sebelah kiri dalam peristiwa tersebut. Dalam laporan disebutkan, […]

  • The Best Productivity Tools for Remote Work

    The Best Productivity Tools for Remote Work

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle mtgailea
    • visibility 422
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • 70 TAHUN HSBI, DARI PANGGUNG DAKWAH HINGGA RUANG DIGITAL DALAM GENGGAMAN

    70 TAHUN HSBI, DARI PANGGUNG DAKWAH HINGGA RUANG DIGITAL DALAM GENGGAMAN

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 49
    • 0Komentar

    PRESS release   70 TAHUN HSBI, DARI PANGGUNG DAKWAH HINGGA RUANG DIGITAL DALAM GENGGAMAN   JAKARTA, 24 September 2026 — Tujuh puluh tahun perjalanan Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) merupakan perjalanan panjang tentang bagaimana seni dan kebudayaan digunakan sebagai bahasa untuk menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Hari ini, 24 September 2026, HSBI genap berusia 70 […]

expand_less