Breaking News
light_mode
Trending Tags
Detak Papua HUT RI_Web
previous arrow
next arrow
Beranda » Nasional » Drama Vertikal Indonesia, TiviQu.studio Hadirkan Creative Tool Berbasis AI

Drama Vertikal Indonesia, TiviQu.studio Hadirkan Creative Tool Berbasis AI

  • account_circle admin
  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • visibility 11
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Redaksi
Workshop di Transport Hub Dukuh Atas membahas perubahan industri hiburan digital, perilaku penonton, serta pemaatan kecerdasan buatan untuk mendukung kreativitas penulis dan pembuat film Indonesia.

JAKARTA, 10 Oktober 2026 — Popularitas drama Korea Selatan (K-Drama), drama Tiongkok (C-Drama), dan microdrama berbasis smartphone membawa perubahan dalam industri hiburan digital. Pergeseran ini bukan sekadar soal teknologi dan format layar, tetapi juga tentang bagaimana cerita diproduksi, didistribusikan, dan membangun kedekatan dengan penonton.
Di tengah perkembangan tersebut, sineas Indonesia menghadapi tantangan untuk menghadirkan karya yang mampu bersaing di pasar digital tanpa kehilangan identitas budaya sendiri.
Persoalan ini menjadi pembahasan dalam workshop bertajuk “Perubahan Industri dan Perilaku Penonton: K-Drama, C-Drama, dan Masa Depan Drama Vertikal Indonesia” yang diselenggarakan pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 10.00–12.00 WIB, di Transport Hub Dukuh Atas, Jalan Blora, Jakarta Pusat.
Workshop menghadirkan Budi Sumarno, praktisi perfilman sekaligus pendiri Sinemakita.com dan penulis buku CinemaTherapy, yang membahas perubahan industri dan perilaku penonton. Sementara itu, Boni Faisal, Founder TiviQu, memperkenalkan TiviQu.studio, sebuah creative tool berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendukung proses kreatif penulis dan pembuat film.

Membaca Perubahan Industri dan Perilaku Penonton
Sebagai praktisi perfilman yang terlibat dalam pengembangan ekosistem film Indonesia, Budi Sumarno menyoroti perubahan cara masyarakat menikmati hiburan. Kehadiran platform streaming, distribusi digital, dan penggunaan smartphone membuat film serta serial semakin mudah diakses, sekaligus mengubah ekspektasi penonton terhadap format dan cara bercerita.
Perubahan tersebut menuntut pelaku industri untuk memahami audiens secara lebih mendalam. Penonton tidak hanya mencari tontonan, tetapi juga karakter yang terasa dekat, konflik yang menggugah emosi, dan cerita yang membuat mereka ingin terus mengikuti perjalanan tokohnya.
Popularitas K-Drama memperlihatkan bagaimana kisah cinta, keluarga, persahabatan, dan perjuangan dapat membangun ikatan emosional dengan penonton lintas negara. Sementara itu, C-Drama menghadirkan keragaman cerita yang bersumber dari sejarah, sastra, mitologi, fantasi, hingga kehidupan modern.
Bagi Indonesia, fenomena ini bukan alasan untuk meniru industri negara lain secara mentah. Sebaliknya, hal tersebut menjadi kesempatan untuk mempelajari bagaimana cerita dikembangkan menjadi karya yang menarik, memiliki karakter kuat, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Indonesia memiliki sumber cerita yang melimpah, mulai dari legenda daerah dan sejarah Nusantara hingga dinamika keluarga, romansa, misteri, dan persoalan sosial kontemporer. Potensi tersebut perlu didukung oleh penulisan skenario yang kuat, produksi yang terencana, strategi distribusi yang tepat, serta model bisnis yang berkelanjutan.

Ruang Distribusi dan Apresiasi Karya Audiovisual Indonesia
Pengalaman Budi Sumarno dalam dunia perfilman juga tercermin melalui pendirian Sinemakita.com, sebuah platform over-the-top (OTT) yang berfokus pada streaming dan distribusi karya audiovisual Indonesia.
Platform OTT memungkinkan masyarakat mengakses konten melalui internet tanpa harus bergantung pada pola siaran televisi konvensional. Dalam konteks Sinemakita.com, platform ini menjadi bagian dari upaya memperluas ruang distribusi dan apresiasi terhadap karya audiovisual Indonesia.
Distribusi merupakan salah satu mata rantai penting dalam ekosistem perfilman. Sebuah film tidak cukup hanya selesai diproduksi; karya tersebut juga perlu menemukan penontonnya. Karena itu, keberadaan platform digital membuka peluang bagi sineas untuk mempertemukan karya dengan audiens melalui jalur distribusi yang semakin beragam.
Pembahasan tentang drama vertikal menjadi relevan dalam konteks tersebut. Ketika kebiasaan menonton terus berubah, pengembangan format dan jalur distribusi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas cerita. Tantangannya adalah memastikan bahwa karya Indonesia tidak hanya tersedia secara digital, tetapi juga memiliki alasan kuat untuk dipilih oleh penonton.

Melihat Film Lebih dari Sekadar Hiburan
Selain sebagai praktisi perfilman, Budi Sumarno juga dikenal melalui buku CinemaTherapy, yang mengangkat gagasan mengenai film sebagai medium untuk refleksi, pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan manusia.
Dalam perspektif ini, film tidak berhenti sebagai tontonan. Cerita dan karakter dapat menjadi ruang bagi penonton untuk mengenali pengalaman hidup, memahami sudut pandang orang lain, serta merenungkan persoalan sosial dan kemanusiaan.
Pendekatan tersebut memperluas cara pandang terhadap fungsi perfilman. Kekuatan sebuah karya tidak hanya terletak pada kemampuannya menarik perhatian, tetapi juga pada pengalaman dan makna yang ditinggalkannya bagi penonton.
Gagasan ini memiliki relevansi dengan pengembangan drama vertikal Indonesia. Format boleh berubah mengikuti teknologi dan kebiasaan audiens, tetapi kedalaman karakter, kejujuran emosi, dan nilai kemanusiaan tetap menjadi unsur penting dalam membangun cerita yang berkesan.

TiviQu.studio, Creative Tool Berbasis AI
Dalam sesi berikutnya, Boni Faisal selaku Founder TiviQu memperkenalkan TiviQu.studio, perangkat kreatif berbasis AI yang ditujukan untuk membantu penulis dan pembuat film dalam proses pengembangan karya audiovisual.
Pemanfaatan AI membuka peluang untuk mengeksplorasi gagasan dan mendukung pekerjaan kreatif tertentu secara lebih efisien, bergantung pada fitur dan kemampuan perangkat yang digunakan. Bagi kreator yang bekerja dengan tuntutan waktu dan sumber daya terbatas, teknologi semacam ini dapat menjadi sarana pendukung dalam menyiapkan dan mengembangkan materi cerita.
Namun, teknologi bukan satu-satunya penentu kualitas karya. Kreator tetap perlu memiliki kemampuan menilai gagasan, membangun karakter, menyusun konflik, dan menentukan arah artistik agar cerita memiliki tujuan yang jelas.
Pengenalan TiviQu.studio menjadi bagian dari pembahasan tentang bagaimana perangkat digital dapat dimanfaatkan untuk membantu kreator beradaptasi dengan perubahan industri, termasuk meningkatnya kebutuhan akan konten yang sesuai dengan pola konsumsi melalui smartphone.

AI Membantu Manusia, Bukan Menggantikan Kreativitas
Dalam diskusi penutup, Budi Sumarno menegaskan bahwa AI tidak seharusnya diposisikan sebagai teknologi yang mengalahkan karya, imajinasi, atau kreativitas manusia. AI justru dapat digunakan sebagai alat bantu untuk meringankan pekerjaan dan mempercepat proses kreatif.
Manusia tetap harus mampu mengarahkan teknologi secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Kepekaan emosional, pengalaman hidup, pemahaman budaya, serta pertimbangan artistik menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas sebuah cerita.
Pandangan tersebut menempatkan manusia sebagai pengarah proses kreatif, sementara AI berperan membantu pekerjaan tertentu. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat membuka ruang eksplorasi tanpa menghilangkan tanggung jawab kreator terhadap isi dan kualitas karyanya.
Prinsip ini juga menjadi relevan bagi penulis dan pembuat film yang ingin memanfaatkan perangkat seperti TiviQu.studio. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan materi lebih cepat, melainkan mendukung proses penciptaan karya yang tetap memiliki visi, karakter, dan nilai.

Bagaimana Membuat Penonton Memilih Drama Vertikal Indonesia?
Di tengah maraknya drama Korea dan drama Tiongkok, pertanyaan penting bagi industri nasional adalah bagaimana membuat penonton tertarik menyaksikan cerita Indonesia dalam format vertikal.
Jawabannya tidak cukup dengan mengubah orientasi gambar menjadi vertikal. Drama vertikal memerlukan pendekatan penceritaan yang sesuai dengan kebiasaan menonton melalui smartphone: pembukaan yang menarik, konflik yang berkembang efektif, karakter yang mudah dikenali, serta akhir episode yang mendorong penonton melanjutkan cerita.
Kualitas akting, penyutradaraan, penyuntingan, dan produksi juga menentukan pengalaman menonton. Di samping itu, kreator perlu memahami siapa audiens yang dituju, persoalan apa yang dekat dengan kehidupan mereka, dan emosi apa yang ingin dibangun melalui cerita.
Indonesia memiliki beragam tema yang dapat dikembangkan, seperti romansa, perjuangan ekonomi keluarga, konflik antargenerasi, misteri lokal, hingga kisah yang berangkat dari sejarah dan tradisi daerah. Pengemasan modern dapat membuat cerita-cerita tersebut terasa dekat dengan generasi sekarang tanpa menghilangkan akar budayanya.
Tujuannya bukan memaksa penonton meninggalkan K-Drama atau C-Drama, melainkan menghadirkan karya Indonesia yang sama menariknya untuk ditonton, diikuti, dan diperbincangkan.

Cerita Nusantara sebagai Kekayaan Intelektual
Pengembangan drama vertikal juga berpotensi membuka peluang ekonomi melalui penciptaan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP). Cerita yang memiliki karakter dan dunia yang kuat dapat dikembangkan lebih lanjut ke berbagai format, seperti film panjang, serial, buku, musik, maupun produk kreatif lainnya.
Legenda daerah, misalnya, tidak harus berhenti sebagai cerita lisan atau bahan pembelajaran sejarah. Dengan pengembangan skenario dan pendekatan produksi yang tepat, kisah tersebut dapat menjadi karya audiovisual yang menjangkau generasi baru.
Agar potensinya berkelanjutan, diperlukan perlindungan hak cipta, pembagian hak yang jelas, strategi distribusi, dan model bisnis yang memberikan manfaat bagi kreator serta pihak yang berkontribusi. Kolaborasi antara penulis, sutradara, produser, penyedia teknologi, investor, dan distributor menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem tersebut.
Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan cerita yang berakar pada budaya lokal, tetapi berbicara tentang pengalaman manusia yang universal. Cinta, keluarga, ambisi, kehilangan, pengkhianatan, perjuangan, dan harapan dapat dipahami lintas budaya; keunikan Indonesia terletak pada cara kisah-kisah itu dihidupkan melalui karakter, bahasa, sejarah, dan kehidupan masyarakat Nusantara.

Membangun Masa Depan Drama Indonesia
Workshop ini mempertemukan dua aspek penting dalam perkembangan industri audiovisual: pemahaman terhadap perubahan perilaku penonton dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses kreatif.
Pentingnya memahami dinamika industri sekaligus memperkuat daya tarik cerita Indonesia. Juga keterkaitan antara penciptaan karya, distribusi, dan nilai yang dapat dihadirkan film bagi masyarakat.
TiviQu.studio sebagai perangkat kreatif berbasis AI yang ditujukan untuk mendukung penulis dan pembuat film dalam menghadapi kebutuhan industri yang terus berkembang.
Masa depan drama vertikal Indonesia pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau format yang digunakan. Keberhasilannya bergantung pada kemampuan kreator memahami penonton, menghasilkan cerita yang kuat, memperluas akses distribusi, dan membangun ekosistem bisnis yang sehat.
Indonesia tidak perlu menjadi Korea Selatan atau Tiongkok. Indonesia perlu membangun industri yang memiliki identitas sendiri dan mampu membuat dunia tertarik menyaksikan cerita Indonesia.

AI membantu manusia berkarya, teknologi mempercepat proses, tetapi kreativitas manusialah yang memberikan jiwa pada cerita.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan sekadar memproduksi lebih banyak film vertikal, melainkan menghadirkan karya yang menyentuh hati, membangun loyalitas penonton, dan menumbuhkan nilai budaya maupun ekonomi bagi industri kreatif nasional. ( Red )

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • The Future of Mixed Reality: Blending the Virtual and the Real 2.10 Play Button

    The Future of Mixed Reality: Blending the Virtual and the Real

    • calendar_month Selasa, 28 Jan 2025
    • account_circle Lili Cheng
    • visibility 1.059
    • 0Komentar

    At Microsoft Ignite 2023, we are announcing Copilot in Microsoft Dynamics 365 Guides, which combines the power of generative AI with mixed reality to help frontline workers complete complex tasks and resolve issues faster with less disruption to the flow of work. Copilot in Dynamics 365 Guides assists workers in industrial settings who deal with complex […]

  • Luka Doncic’s 32-point night helps Lakers finally win in Denver

    Luka Doncic’s 32-point night helps Lakers finally win in Denver

    • calendar_month Rabu, 15 Jan 2025
    • account_circle Dave McMenamin
    • visibility 111
    • 0Komentar

    DENVER — It took Luka Doncic only one quarter Saturday to match his highest scoring output from his first three games with the Los Angeles Lakers, tallying 16 points while L.A. built an early lead on the Denver Nuggets. He kept rolling from there — and so did the Lakers — as Doncic finished with a game-high 32 points […]

  • Stories of Resilience: Failed Gadgets That Paved the Way for Future Successes

    Stories of Resilience: Failed Gadgets That Paved the Way for Future Successes

    • calendar_month Kamis, 15 Feb 2024
    • account_circle mtgailea
    • visibility 377
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Giat SMANDA Manokwari dalam rangka sambut HUT NKRI ke 81 photo_camera 3

    Giat SMANDA Manokwari dalam rangka sambut HUT NKRI ke 81

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 121
    • 0Komentar

    MANOKWARI – detakpapua.com. Memasuki bulan Agustus berbagai kegiatan di selenggarakan oleh Pemerintah, Instansi Swasta, BUMN,BUMD, hingga berbagai sekolah di Indonesia. Demikian juga dengan SMA Negeri 2 (Dua) Manokwari. Dalam rangka sambut hari ulang tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Sekolah menggelar berbagai kegiatan yang dikemas dalam berbagai Lomba, seperti lomba Tarik tambang, Water Boom dan […]

  • Penembakan Terjadi di Kompleks Pertamina Lama Tolikara, Seorang Warga Luka di Bagian Betis photo_camera 5

    Penembakan Terjadi di Kompleks Pertamina Lama Tolikara, Seorang Warga Luka di Bagian Betis

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 83
    • 0Komentar

    TOLIKARA, PAPUA PEGUNUNGAN — Aksi penembakan dilaporkan terjadi di Kompleks Pertamina Lama, Distrik Wenam, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan, pada Minggu (16/8/2026) sekitar pukul 19.25 WIT. Berdasarkan laporan awal yang diterima dari sumber langsung, seorang warga bernama Aryo Saputra (25) mengalami luka tembak pada bagian betis kaki sebelah kiri dalam peristiwa tersebut. Dalam laporan disebutkan, […]

  • Inspirational Tales of Gadgets Changing Lives for the Better

    Inspirational Tales of Gadgets Changing Lives for the Better

    • calendar_month Rabu, 21 Feb 2024
    • account_circle mtgailea
    • visibility 334
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

expand_less